KONSEPSI DAN TEKNIS PENGHITUNGAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM)


KONSEP PEMBANGUNAN MANUSIA

Menurut UNDP (1990:1), pembangunan manusia  adalah suatu proses untuk memperbesar pilihan-pilihan bagi manusia (a process of enlarging people’s choices).
PREMIS Pembangunan Manusia
1.Penduduk sebagai pusat perhatian;
2.Didukung 4 pilar: produktifitas, pemerataan,   kesinambungan, pemberdayaan;
3.Menjadi dasar dalam penentuan tujuan dan  analisis-analisis pilihan untuk mencapainya.

Dari berbagai pilihan yang ingin dicapai, salah satu pilihan terpenting adalah:

*manusia dapat berumur panjang dan sehat,
*memiliki ilmu pengetahuan dan
*mempunyai akses terhadap sumber daya yang dibutuhkan agar dapat hidup secara layak.

Pembangunan manusia melihat secara bersamaan semua isu dalam masyarakat; pertumbuhan ekonomi, perdagangan, ketenagakerjaan, kebebasan politik ataupun nilai-nilai kultural dari sudut pandang manusia.

TUJUAN PEMBANGUNAN MANUSIA:

Terwujudnya kesejahteraan rakyat, meningkatkan kualitas kehidupan, dan tercapainya kebutuhan dasar.

DALAM KONTEKS INTERNASIONAL;

  • Indonesia memiliki komitmen untuk melaksanakan Tujuan Pembangunan Milenium (Milennium Development Goals) :
  • Menurunkan proporsi penduduk yang tingkat pendapatannya di bawah $ 1 per hari menjadi setengahnya antara 1990-2015
  • Menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi setengahnya antara tahun 1990-2015
  • Memastikan pada tahun 2015 semua anak-anak dimanapun, laki-laki maupun perempuan dapat menyelesaikan pendidikan dasar.
  • Menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar dan lanjutan pada 2005 dan di semua jenjang pendidikan tidak lebih dari tahun 2015.
  • Menurunkan angka kematian balita sebesar dua pertiganya, antara 1990-2015
  • Menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga perempatnya antara 1990-2015

Definisi operasional IPM :

Indeks Pembangunan Manusia merupakan indikator komposit yang menggabungkan tiga aspek penting, yaitu peningkatan kualitas fisik (kesehatan), intelektualitas (pendidikan), dan kemampuan ekonominya (daya beli) seluruh komponen masyarakat dalam kurun waktu tertentu.

Komponen IPM :

X1 = angka harapan hidup

X2 = Tingkat pendidikan

X3 = Kemampuan Daya Beli

Penghitungan indeks Pendidikan :

2/3 (indeks melek huruf) + 1/3 (indeks rata-rata lama sekolah)

Angka Harapan Hidup (e0)

*Merupakan perkiraan rata-rata lamanya hidup sejak lahir yang mungkin akan dicapai oleh sekelompok penduduk
*Angka harapan hidup atau e0 dihitung menggunakan metode tidak langsung (metode Brass, varian Trussel) berdasarkan variabel rata-rata anak lahir hidup dan rata-rata anak  yang masih hidup.
Metode Trussel selama ini dianggap cukup moderat untuk menghitung angka harapan hidup penduduk dibandingkan metode lainnya

Indeks Pendidikan

*Indeks Pendidikan diukur dengan angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah.
*Angka Melek Huruf adalah persentase penduduk usia 15 tahun keatas yang bisa membaca dan menulis (baik huruf latin maupun lainnya)
*Rata-Rata Lama Sekolah adalah  rata-rata jumlah tahun yang telah dihabiskan oleh penduduk usia 15 tahun keatas diseluruh jenjang pendidikan yang pernah dijalani.
Angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah dihitung pada penduduk usia 15 tahun keatas dengan pertimbangan mereka dianggap sebagai penduduk dewasa sehingga mampu melakukan pilihan-pilihan dalam hidup secara mandiri.

INDIKATOR PENDIDIKAN YANG DIGUNAKAN :

*Indikator angka melek huruf diperoleh dari variabel kemampuan membaca dan menulis
*Indikator rata-rata lama sekolah dihitung dengan menggunakan dua variabel secara simultan; yaitu tingkat/kelas yang sedang/pernah dijalani dan jenjang pendidikan tertinggi yang ditamatkan.

Indeks daya Beli Penduduk

*Kemampuan daya beli  merupakan kemampuan individu untuk memenuhi kebutuhan dasar minimal untuk hidup secara layak.
*Komponen kemampuan daya beli penduduk diukur dengan indikator rata-rata konsumsi riil yang telah disesuaikan.
Batas minimum kemampuan daya beli penduduk sebesar Rp. 300.000,-/kapita/tahun untuk memenuhi kebutuhan dasar paling minimum. Setara dengan dua kali garis kemiskinan yang terendah di perdesaan Sulawesi Selatan dan Papua pada tahun 1990.
*Batas maksimum kemampuan daya beli penduduk sebesar Rp. 732.720,-/kapita/tahun untuk memenuhi kebutuhan dasar paling minimum. Setara dengan Proyeksi pengeluaran riil/unit/tahun untuk propinsi yang memiliki angka tertinggi (Jakarta Selatan) pada tahun 2018 setelah disesuaikan dengan formula Atkinson

Penghitungan Daya Beli melalui tahap sebagai berikut :

(a)  Menghitung Pengeluaran Konsumsi Per Kapita (=A)

(b)  Mendeflasikan Nilai A dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) (=B)

(c)  Menghitung daya beli per unit (purchasing power parity/unit. Data dasar yang digunakan adalah data harga dan kuantum dari suatu basket komoditi yang ditetapkan (27 komoditi)

(d)  Membagi nilai B dengan PPP per unit (=C)

(e)  Menyesuaikan nilai C dengan fomula Atkinson untuk memperoleh nilai marginal utility dari C.

Ilustrasi Penghitungan  IPM Jawa Barat 2004 :

* Angka harapan hidup  :  65,34
* Angka melek huruf  :  93,96
* Rata-rata lama sekolah   :  7,36
* Konsumsi per kapita riil   :  Rp 554.570,-

Berdasarkan data tersebut

dihitung indeks masing-masing komponen :

Indeks angka harapan hidup   :

(65,34 – 25) / (85 – 25)  = 0,6723

Indeks angka melek huruf    :

(93,96 – 0) / (100 – 0)    = 0,9396

Indeks rata-rata lama sekolah :

(7,36 – 0) / (15 – 0)        = 0,4913

Indeks pendidikan :

2/3 (0,9396) + 1/3 (0,4913) = 0,7902

Indeks Konsumsi per kapita riil :

(554,57 – 300) / (732,72 – 300) = 0,5883

Akhirnyaangka IPM Jawa Barat dihitung :

IPM = 1/3 (0,6723 + 0,7902 + 0,5883)

= 0,6836 x 100 = 68,36

Upaya yang mungkin dilakukan untuk “mendongkrak” pencapaian IPM :

Dalam konteks peningkatan derajat kesehatan misalnya, upaya menurunkan tingkat kematian bayi dan balita secara bertahap harus menjadi prioritas. Kegiatan yang cukup relevan diantaranya, adalah:

*Memudahkan akses fasilitas kesehatan dengan melakukan pembangunan sarana kesehatan secara lebih merata, utamanya di kecamatan yang relatif tertinggal.
*Meningkatkan Gerakan Sayang Ibu (GSI) dalam rangka meningkatkan status gizi balita, dengan cara pemberian ASI (Air Susu Ibu) eksklusif.
*Mensosialisasikan program hidup sehat, baik melalui sekolah-sekolah maupun perkumpulan ibu-ibu PKK di desa atau kelurahan misalnya. Atau melalui pemutaran film, seperti yag pernah dilakukan oleh BKKBN dalam rangka menggalakkan program KB.
*Di bidang pendidikan:
*Akselerasi wajar dikdas 9 tahun
*Penuntasan buta huruf secara berkelanjutan
*Menurunkan angka rawan drop out murid sekolah
*Revitalisasi gedung-gedung sekolah, sebagai upaya meningkatkan partisipasi murid secara berkelanjutan.
*Meningkatkan anggaran pendidikan secara bertahap
*Efisiensi pengelolaan pendidikan
*Meningkatkan peran serta orang tua dan masyarakat dalam pendidikan
*Menggalakan program kejar paket secara berkelanjutan
*Melakukan sertifikasi bagi lulusan pendidikan luas sekolah (PLS), seperti program kejar Paket A, B dan C dan program lainnya (madrasah salafiyah)
*Dalam rangka meningkatkan kemampuan daya beli masyarakat, upaya pengembangan usaha skala mikro tampaknya dapat menjadi alternatif pilihan untuk mendongkrak pendapatan masyarakat yang relatif tertinggal.
*Mendorong laju investasi baik pemerintah maupun swasta kepada pembangunan yang mengarah ke daerah-daerah yang kurang berkembang,  misalnya ke daerah-daerah perdesaan.
*Sebagai salah satu daerah agraris, menjadi relevan adanya upaya memperbaiki nilai tukar petani dengan melakukan peningkatan mutu dan sarana irigasi, penyediaan alat-alat pertanian yang mencukupi, sarana transportasi bagi kemudahan pemasaran produksi pertanian, serta pengadaan penyuluhan bagi  petani yang berguna untuk meningkatkan produktivitas pertaniannya.
— terima kasih —
About these ads

4 gagasan untuk “KONSEPSI DAN TEKNIS PENGHITUNGAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM)

  1. Saya masih bingung mengenai angka IPM. Di daftar UNDP, skala IPM adalah 0-1. IPM tertinggi tahun 2011 dimiliki Norwegia dgn angka 0,965. Sementara IPM Indonesia 2011 adalah 0,617.

    Sedangkan di Indonesia, skala IPM adalah 0-100. IPM Indonesia pd tahun 2009 menurut BPS adalah 71,76.

    Mengapa skala IPM versi Indonesia berbeda dgn versi UNDP?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s