Analisis Dampak Lalu Lintas Pasar Balubur…


Analisis Kondisi (Lalu lintas) Eksisting

Analisis kondisi eksisting yang dijelaskan disini terdiri atas penggunaan lahan, dan kinerja ruas jalan dan persimpangan dijelaskan  sebagai berikut :

Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan pada lokasi sekitar lokasi rencana pembangunan adalah kawasan pendidikan dan jasa sepanjang Jalan Tamansari, semua pembangkit perjalanan ini mempunyai akses langsung ke jalan utama. Kondisi ini mengakibatkan kemacetan dan kesemrawutan lalulintas  teruatama pada pagi dan sore hari. Keberadaan pedagang kaki lima sepanjang jalan yang mengambil 1 – 2 meter lebar efektif badan jalan semakin memperparah kemacetan lalulintas yang terjadi.

Ruas Jalan dan Persimpangan

Analisis dampak lalulintas akan menjelaskan kondisi ruas jalan Tamansari dan Simpang Tamansari – Cikapayang sebagai berikut :

Ruas jalan Tamansari

Lebar jalan Tamansari tidak konsisten sepanjang jalan lokasi pembangunan karena tingginya penggunaan jasa mengakibatkan lebar efektif badan jalan hanya 10 meter, dari seharusnya 12 meter.

Perhitungan kinerja lalu lintas saat ini (sebelum pembangunan) selanjutnya ditampilkan pada tabel berikut :

Tabel. V.1. Indikator Kinerja Lalulintas Saat ini (Eksisting)

No Indikator Nilai
1 Lebar 10 meter
2 Volume 2.845 smp/jam
3 Kapasitas 5250 smp/jam
4 Derajat Kejenuhan 0.54
5 Kecepatan 38 km/jam
6 Kepadatan 75 smp/km
7 Tingkat Pelayanan C

Tabel V.1 diatas memperlihatkan volume lalulintas yang  cukup tinggi, melewati titik tengah kapasitas ruas jalan yang ada saat ini, sehinga derajat kejenuhan (tingkat okupansi) adalah 0,54. Dengan demikian kecepatan lalulintas rendah yaitu sekitar 38 km / jam dan kepadatan yaitu 75 kendaraan per kilometer jalan. Dengan demikian tingkat pelayanan secara umum adalah berada pada level C.

Simpang Tamansari – Bangbayang

Simpang Tamansari adalah simpang empatkaki yang cukup rawan karena tingginya volume lalulintas dan kurang disiplinnya pengguna jalan.

Volume lalulintas jalan mayor  (bawah jalan Pasupati) adalah :

2.978 smp/jam,

Sedangkan volume lalulintas jl minor (Jl. Tamansari) adalah :

2.845 smp/jam

Idealnya pengaturan simpang disesuaikan dengan Annual Average Daily Traffic (AADT) dapat dilihat pada gambar III. 3. Kriteria penentuan pengaturan persimpangan halaman III-14. Perkiraan AADT adalah sebagai berikut :

Jalan mayor = 2.978 x 10 = 29.780 kendaraan / hari

Jalan minor = 2.845 x 10 = 28.450 kendaraan / hari

Maka pengendalian persimpangan ideal adalah = persimpangan tidak sebidang.

Analisis Kondisi (Lalulintas) Rencana

Total penggunaan lahan yang akan dibangun adalah + 10.000 m2 Perhitungan dampak lalulintas dapat dihitung dengan metode Perhitungan Empiris sebagai berikut :

Perhitungan bangkitan tarikan lalulintas diasumsikan mengikuti hasil penelitian LPPM-ITB Tahun 1998, sebagai berikut:

  • Total luas lahan          :       + 10.000 m2 (x1 = 10)
  • Total luas lantai          :       20.000 m2 (x2 = 20)

Bangkitan lalulintas :

Y = 2,123 (x1) + 4,785 (x2) + 12,776

Y = 2,123 (10) + 4,785 (20) + 12,776

Y = 21, 230 + 95.7+ 12,776

Y = 129,706= 130 kendaraan / jam

Tarikan lalulintas :

Y = 1,639 (x1) + 8,437 (x2) + 33,897

Y = 1,639 (10) + 8,437 (20) + 33,897

Y = 16,39+ 168,74+ 33,897

Y = 219,027= 220 kendaraan/jam

Jadi total bangkitan dan tarikan yang ditimbulkan adalah = 130 + 220 = 350 kendaraan/jam.

Perbandingan Kondisi (Lalulintas) Sebelum dan Sesudah Pembangunan

Kondisi ruas jalan Tamansari sesuai perhitungan pada sub bab sebelumnya akan meningkat sebesar 350 smp/jam, maka diprediksikan terjadi penurunan kinerja sebagai berikut :

Tabel. V.2. Indikator Kinerja Lalulintas Setelah pembangunan

No Indikator Nilai
1 Lebar 10 meter
2 Volume 3,195.00 smp/jam
3 Kapasitas 5250 smp/jam
4 Derajat Kejenuhan 0.60857
5 Kecepatan 33 km/jam
6 Kepadatan 96.8182 smp/km
7 Tingkat Pelayanan C

Tabel V.2 diatas memperlihatkan bahwa peningkatan volume lalulintas mengakibatkan turunnya derajat kejenuhan (tingkat okupansi) mencapai 0,6 yang berarti tingkat pelayanan C. untuk memperbandingkan dengan kondisi semula dapat dijelaskan pada table berikut :

Tabel. V.3. Perbandingan Kinerja Lalulintas Sebelum dan Setelah Pembangunan

No Indikator Nilai Perbandingan (%)
Sebelum Setelah
1 Volume 2.845 smp/jam 3,195.00 smp/jam 12.30%
2 Kapasitas 5250 smp/jam 5250 smp/jam -
3 Derajat Kejenuhan 0.54 0.60857 12.30%
4 Kecepatan 38 km/jam 33 km/jam -13.16%
5 Kepadatan 75 smp/km 96.8182 smp/km 29.32%
6 Tingkat Pelayanan C C -

Tabel diatas memperlihatkan terjadi penurunan kinerja lalulintas yang cukup drastis diakibatkan tingginya tingkat penggunaan Jl. Tamansari pada kondisi saat ini (eksisting). Kondisi ini secara umum menurunkan kecepatan lalulintas dan meningkatkan kepadatan lebih dari 10%. Dengan demikian diwajibkan kepada pengembang Pusat Belanja Balubur untuk melakukan mitigasi dampak lalulintas.

Mitigasi Dampak Lalulintas

Upaya mitigasi lalulintas yang direkomendasikan adalah sebagai berikut :

Fasilitas parkir

Perhitungan fasilitas parkir dihitung dengan memperbandingkannya dengan standar yang telah ditetapkan sebagai berikut :

Menurut standar Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, untuk pusat perdagangan, untuk Luas Area Total antara 10.000 m2 – 50.000 m2, kebutuhan ruang parkir adalah berkisar antara 125 – 415 ruang parkir. Sedangkan menurut perhitungan bangkitan dan tarikan perjalanan diketahui bahwa diprediksikan akan terjadi 350 perjalanan per jam , dan sangat diajurkan bahwa pengembang dapat menyediakan sekurang-kurangnya sejumlah 350 satuan ruang parkir mobil penumpang.

Sebagai perbandingan dengan standar penyediaan ruang parkir DKI Jakarta, dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel V.4. Rencana Pengaturan Fasilitas Parkir Tiap Jenis Kegiatan

Penggunaan Standar Kebutuhan Satuan
Wisma
Bangunan wisma bukan flat Harus menyediakan tempat parkir 1 bgn/ 1 mobil
Karya
Industri dan pergudangan Ruang pabrik/ gudang
Luas 2000 m2 setiap 200 m2 lantai 1 parkir truk
Luas 2000 – 5000 m2 setiap 300 m2 lantai Minimal 10 parkir
Luas 5000 m2 keatas Minimal 17 parkir
Perkantoran Setiap 100 m2 lantai 1 mobil
Bangunan toko / perkantoran Setiap 100 m2 lantai 1 mobil
Bangunan apotik Setiap 100 m2 lantai 1 mobil
Bangunan praktek dokter Setiap 20-60 m2 lantai 1 mobil
Suka
Bangunan hotel Hotel bintang 4 dan 5 setiap 5 kamar 1 mobil
Hotel bintang 3 dan 2 setiap 7 kamar 1 mobil
Hotel bintang kebawah setiap 10 kamar 1 mobil
Bioskop Kelas A-1, setiap 7 kursi 1 mobil
Kelas A-2, setiap 10 kursi 1 mobil
Kelas A-3, setiap 15 kursi 1 mobil
Restoran Kelas I, setiap 7 kursi 1 mobil
Bangunan pasar Pasar tingkat kota, setiap 100 m2 lantai 1 mobil
Pasar tingkat wilayah, setiap 200 m2 lantai 1 mobil
Pasar tingkat lingkungan, setiap 400 m2 lantai 1 mobil
Bangunan rumah sakit Kelas I, setiap 5 tempat tidur 1 mobil
Kelas II, setiap 10 tempat tidur 1 mobil
Bangunan prtemuan Padat, setiap 4 m2 lantai 1 mobil
Non Padat, setiap 10 m2 lantai 1 mobil
Bangunan olahraga Setiap 15 penonton 1 mobil
Bangunan perguruan tinggi Setiap 200 m2 lantai 1 mobil
Sekolah Setiap 100 m2 lantai 1 mobil

Sumber :         Pedoman Perencanaan Tata Bangunan DTK DKI Jakarta

Menurut tabel diatas, lahan parkir yang dibutuhkan untuk bangunan toko/perkantoran adalah satu ruang parkir setiap 100 m2 bangunan. Apabila lantai bangunan yang direncanakan adalah +20.000 m2, maka ruang parkir yang dibutuhkan menurut standar adalah +200 ruang parkir kendaraan. Dengan asumsi satu ruang parkir adalah 2,5 x 5 meter = 12,5 m2, maka lahan parkir yang dibutuhkan adalah 200 x 12,5 = 2.500 m2 .

Penyediaan ruang parkir menurut klasifikasi kendaraan selanjutnya ditampilkan pada tabel berikut :

Tabel V.5. Kebutuhan Ruang Parkir Tiap Jenis Kendaraan

No Jenis Kendaraan Kebutuhan Ruang Parkir SRP Luas yang dibutuhkan (m2)
1 Mobil pribadi 350 2,3 x 5,00 4025
2 Sepeda motor 500 0,75 x 2,00 750
3 Truk sedang 20 3 x 5,00 300
Total kebutuhan ruang parkir 5.075

Badan Jalan

Menurut Buku Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota No.038/T/BM/1997 dari Departemen Pekerjaan Umum, dengan VLHR >25.000 kendaraan, maka lebar jalur dan bahu jalan adalah :

ü   Lebar jalur ideal = 2n x 3,5 = 2 x 3,5 = 14 meter

ü   Lebar bahu = 2,5 meter

Sedangkan lebar median mengacu pada Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan, Direktorat Jenderal Bina Marga adalah 2,0 meter (median yang ditinggikan).

Daerah bebas samping menurut standar Buku Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota No.038/T/BM/1997 dari Departemen Pekerjaan Umum dengan jarak pandang henti lebih kecil daripada panjang tikungan (Jh<Lt)  dan kecepatan rencana 30 km/jam (pada persimpangan), maka jarak obyek terhadap penghalang (E) adalah 3,0 meter (radius=30 meter). Dengan demikian untuk kepentingan keselamatan diperlukan tambahan jarak bebas sejauh 3 meter.

Untuk persimpangan baik pada akses keluar masuk pusat belanja dan simpang Balubur – Bangbayang perlu diprehatikan hal-hal sebagai berikut :

  • Melakukan perbaikan geometrik persimpangan dengan menambah lebar lajur masuk (w entry) dengan radius 10 meter dan penyediaan lajur percepatan dan perlambatan (taper) minimal 25 meter ;
  • perbaikan jarak pandang (sight distance) pada akses masuk dengan membersihkan/ memundurkan fasilitas yang menghalangi pandangan pengemudi ;
  • Berhenti dan parkir pada mulut persimpangan tidak diperkenankan dengan pertimbangan kemacetan lalulintas ;
  • Dibangunnya pusat kegiatan baru cenderung menimbulkan dampak ikutan berupa pedagang kaki lima dan pangkalan angkutan umum,  becak, ojek dan lain-lain sehingga perlu petugas pengamanan ;

Fasilitas pendukung

Fasilitas berupa rambu, marka, penerangan jalan dan lampu lalulintas masih berfungsi baik dan dapat terlihat dengan jelas. Hanya adanya radius perputaran yang kurang memadai dan menimbulkan hambatan sebelum persimpangan Tamansari .

Untuk trotoar, menurut Buku Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan, lebar minium trotoar untuk jalan kelas II adalah 3,0 meter, sehingga lebar trotoar yang ada belum memenuhi standar yang ditetapkan.

penyediaan sarana dan prasarana pendukung bangunan lainnya yang perlu  diperhatikan adalah sebagai berikut :

  • Menyediakan ruang dari sebagian lahannya untuk penampungan pedagang kaki lima (PKL) ;
  • Membuat Ly bay/ bus bay / bus shelter pada persil menghadap Jalan Tamansari pada dua sisi. Menyediakan rambu larangan parkir di badan jalan ;
  • Menyediakan rambu larangan mendahului ;
  • Menyediakan rambu pejalan kaki ;
  • penyediaan rambu pembatas kecepatan dan marka lalu lintas terutama 100 meter sebelum akses masuk ke rencana bangunan ;
  • Fasilitas pejalan kaki yang perlu disediakan adalah trotoar untuk menyusuri jalan dan jembatan penyeberangan.Fasilitas trotoar juga perlu dilengkapi dengan pagar pengaman dengan pertimbangan keselamatan lalulintas

Upaya ini diharapkan dapat meminimalisir dampak kemacetan lalulintas yang ditimbulkan akibat pembangunan pusat pembangkit perjalanan. Rekomendasi upaya manajemen lalulintas untuk lebih jelasnya digambarkan pada Gambar pada berikut :

sedangkan rekomendasi penanganan kemacetan lalulintas dari Polwiltabes Bandung adalah sebagaimana gambar berikut :

About these ads

11 thoughts on “Analisis Dampak Lalu Lintas Pasar Balubur…

  1. bang karda, kalo buat yang AADT ini:

    Idealnya pengaturan simpang disesuaikan dengan Annual Average Daily Traffic (AADT) dapat dilihat pada gambar III. 3. Kriteria penentuan pengaturan persimpangan halaman III-14

    ada linknya???
    makasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s