Definisi dan Istilah


Penataan adalah tindakan atau upaya yang dilakukan untuk memperbaiki atau merubah suatu keadaan agar menjadi lebih baik ((Kaidah tentang Pengertian Tata Bahasa Indonesia, Kamus Tata Bahasa Indonesia, CV. Pustaka Bandung), (DR. NUGROHO NOTOSOESANTO,  1978)).

Penataan Lalu Lintas adalah tindakan atau upaya manajemen lalu lintas yang dilakukan untuk memperbaiki atau meningkatkan kinerja lalu lintas (Menuju   Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang Tertib, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Jakarta, 1995).

Manajemen lalu lintas adalah pengelolaan dan pengendalian lalu lintas dengan melakukan optimasi penggunaan prasarana yang ada melalui peredaman atau pengecilan tingkat pertumbuhan lalu lintas, memberikan kemudahan kepada angkutan yang efisien dalam penggunaan ruang jalan serta memperlancar sistem pergerakan. ((Rekayasa Lalu Lintas-Pedoman Perencanaan dan pengoperasian Lalu Lintas di Wilayah Perkotaan) (Direktorat BSLLAK, 1999)).
Lalu lintas adalah gerak kendaraan, orang dan hewan di jalan (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan).

Jalan adalah jalan yang diperuntukan bagi lalu lintas umum (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 1980 tentang Jalan).

Persimpangan adalah pertemuan atau percabangan jalan, baik sebidang maupun yang tidak sebidang (Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu lintas jalan)

Lajur adalah bagian jalur yang memanjang, dengan atau tanpa marka jalan, yang memiliki lebar cukup untuk satu kendaraan bermotor sedang berjalan, selain sepeda motor (Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu lintas jalan)

Kendaraan adalah suatu alat yang dapat bergerak di jalan, terdiri dari kendaraan bermotor atau kendaraan tidak bermotor (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan).

Kendaraan bermotor adalah kendaraan yang digerakan oleh peralatan teknik yang berada pada kendaraan itu (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan).

Kapasitas (smp/jam) adalah arus maksimum yang stabil di mana kendaraan diharapkan dapat melewati suatu segmen atau titik tertentu pada suatu ruas jalan pada periode waktu tertentu (misal 15 menit) dengan kondisi geometric, pola dan komposisi lalu lilntas tertentu, dan faktor lingkungan tertentu pula (MKJI, 1996).

Arus jenuh (saturation flow) adalah tingkat antrian arus berangkat pada mulut persimpangan. Untuk simpang berlampu lalu lintas, arus jenuh ditentukan berdasarkan smp per jam hijau (MKJI, 1996).

Derajat kejenuhan adalah rasio antara total arus (smp/jam) dan kapasitas (smp/jam) dengan kondisi geometric, pola dan komposisi lalu lilntas tertentu, dan faktor lingkungan tertentu pula (MKJI, 1996).

Kecepatan perjalanan adalah kecepatan rata-rata  dari suatu arus lalu lintas, dihitung dengan cara panjang ruas jalan dibagi dengan rata-rata waktu perjalanan suatu kendaraan untuk melewati ruas jalan tersebut (MKJI, 1996).

Waktu perjalanan adalah waktu rata-rata yang dibutuhkan kendaraan untuk melewati ruas jalan dengan panjang tertentu termasuk semua hambatan perjalanan (detik/smp) (MKJI, 1996).

Badan jalan (meter) adalah lebar jalan yang dapat dipergunakan untuk pergerakan lalu lintas (MKJI, 1996).

Bahu jalan (meter) adalah jarak dari tepi jalan ke rintangan (MKJI, 1996).

Lebar badan jalan efektif adalah lebar jalan yang dapat dipergunakan oleh arus lalu lintas setelah dikurangi dengan misalnya parkir di badan jalan (on street parking) (MKJI, 1996).

Tipe jalan adalah jumlah lajur dan arah dari ruas jalan : 2 lajur 2 arah (2/2), 4 lajur 2 arah terpisah dan tidak terpisah (4/2),  1 arah (1-3/1) dan jalan tol (motorways) (MKJI, 1996).

Hambatan samping adalah dampak pada performansi lalu lintas yang diakibatkan oleh aktivitas di sisi jalan seperti pejalan kaki yang menyeberang jalan, angkot yang berhenti, dan keluar masuk kendaraan (MKJI, 1996).

Faktor koreksi adalah faktor penyesuian dari kondisi ideal ke kondisi sebenarnya untuk suatu variable tertentu (MKJI, 1996).

Hambatan persimpangan adalah waktu perjalanan ekstra yang dibutuhkan untuk melewati suatu  simpang dibandingkan dengan tanpa simpang (MKJI, 1996).

Panjang antrian adalah panjang antrian kendaraan pada suatu kaki pendekat (meter) (MKJI, 1996).

Antrian adalah jumlah antrian kendaraan pada suatu pendekat (kendaraan, smp) (MKJI, 1996).

Pendekat adalah area pada suatu kaki persimpangan untuk antrian kendaraan sebelum melewati garis henti (apabila lalu lintas belok kiri atau kanan terpisah, satu kaki persimpangan dapat terdiri dari dua atau lebih pendekat) (MKJI, 1996).

Tingkat pelayanan (level of service) adalah ukuran kinerja ruas atau simpang yang dihitung berdasarkan tingkat penggunaan jalan, kecepatan, kepadatan dan hambatan yang terjadi. Tingkat pelayanan dikategorikan dari yang terbaik (A) sampai yang terburuk (tingkat pelayanan F) (MKJI, 1996).

23 gagasan untuk “Definisi dan Istilah

  1. Hal-hal yang perlu ditambahkan:
    1. Apa arti smp/jam? SMP itu kependekan dari apa?
    2. Angka/kuantitatif untuk derajat kejenuhan, rasio yang ideal, yang masih bisa diterima/ditoleransi, yang melampaui batas/kritis
    3. Angka untuk tingkat pelayanan (LOS) jalan, mulai dari A sampai F
    Terima kasih

    • makasih2 tambahannya…
      1. smp : satuan mobil penumpang..
      2. kayaknya angka yang ditolerir masyarakat sekarang dah berubah dech karena masyarakat kita sekarang dah mulai terbiasa dengan kemacetan..
      3. makasih sekali lagi…
      moga sukses u Anda… :)

    • sama aja, artinya jarak antar kendaraan, kalo headway berdasar waktu, spacing berdasar jarak.. gap dan lag juga sama seperti itu.. demikian… moga bisa diterima… dan makasih dah mampir :)

  2. konsep perencanaan terminal seperti apa yang cocok diterapkan di jabar; sehubungan dengan banyaknya terminal (spt di cianjur) yang tidak berfungsi maksimal? kira2 buku apa yang cocok untuk dijadikan referensinya? tks

    • menurut saya sich (yang bisa bener bisa salah), sehubungan jaringan jalan di Jawa Barat masih bergantung pada jalan tol dan jalan peninggalan Belanda, terminal besar (Tipe A) dapat disediakan diluar kota, tidak usah ada di dalam kota.. gitu rojer

  3. Maaf mas minta tolong,,, bisa ga saya minta Semua file SNI yang brhubungan dgn transportasi.. baik dari bina marga ataupun dari perpu?? klo bsa dalam format pdf nya mas,,,

    kalau mas punya tolong kirimkan aja ke email ku,,,

    Atas bantuannya sya ucapkan bnyak trimakasih…

  4. bang saya mau nanya niihhh…
    ghimna sihhh untuk menghitung Biaya Operasi Kendaraan (BOK) akibat on-street parking pada suatu jalan..???

    tolong bantuan nya ya bang..
    please..

    • gampangnya sich tinggal bandingkan aja kondisi tanpa dan dengan parkir.. selisihnya adalah biaya akibat parkir..
      bisa dihitung dari pertambahan bahan bakar, oli, biaya service (besar-kecil) sejenis itulah.. moga puas (kalo belom puas cari sendiri diluar.. hehehe)

  5. di dalam MKJI 1997 itu untuk tabel 5-45 itu untuk menentunkan untuk 3 lajur dengan lebar lajur 2,80 m itu di ambi FVw nya berapa….bisa di bantuk…???

    • Kinerja itu seperti unjuk kerja, kalo simpang itu pertemuan jalan, jadi kinerja simpang itu unjuk kerja pertemuan jalan. Ukuran yg biasa dipake adl hambatan, panjang antrian, gettoooh.. *bingung khan? Sama sy juga bingung wkwk

  6. Asslm.wrb Pak @ karda_dy. saya ingin bertanya.saat ini saya sementara mengambil TA tentang simpang 3-lengan tak bersinyal di kota saya. Yang saya mau tanyakan adalah sbb:
    1. Untuk data volume lalu lintas (Q tot), sebaiknya saya mengambil volume maksimal untuk semua kendaraan untuk semua arah (LT, ST, RT) ataukah saya harus trial mencari volume maksimal (saya mengambil maksimal saat ini, dengan alasan kondisi itu adalah kondisi paling parah yang suatu saat mungkin terjadi; saya belum menemukan referensi parameter peak itu sendiri, jadi saya sebaiknya khusus data volume harus saya bagaimanakan ya Pak?
    2. Sampai pada derajat kejenuhan, DS yang saya dapatkan sampai 1,9. sangat diluar ambang batas. maka LOS dari simpang dengan sendiri masuk F. yang saya mau tanyakan, apa masuk akal? Thesis (eprints.undi*.ac.id/15689/1/Juniardi.pdf) ini yang menjadi dasar tulisan saya. Saya jadi ragu apa yang teliti ini benar atau salah. Saya membandingkan dalam MKJI, saya sedikit menemukan titik terang dimana komposisi kendaraan dalam contoh soal MKJI, khusus motor memang sedikit. Sementara di lapangan, ternyata motor (MC) membeludak (EMP motor 0,5 untuk simpang), jadi dengan sendirinya harga Q total untuk kendaraan yang memasuki simpang menjadi sangat besar.
    3. Berdasarkan DS tadi, maka nilai tundaan Lalin yang dipengaruhi faktor DS menjadi nilai negatif. Apa boleh negatif? Arti tanda negatif itu sendiri apa yah Pak; sebab saya sudah sampai pada pembahasan, tidak tahu harus membahasakan apa nilai tundaan yang bernilai negatif. Saya mencari referensi tentang nilai negatif ini, tapi tidak ada. mohon,jika ada materi tentang hal ini, mohon sharing (biar ujian hasilnya nanti, saya ada dasar ketika ditanya)
    4. Komposisi kendaraan yang saya teliti sangat berbeda jauh dari komposisi kendaraan yang dianjurkan dalam MKJI. Dalam beberapa penelitian yang saya baca, mereka berusaha meng stabilkan data entah dengan faktor koreksi, ada juga dengan mengatur ulang nilai EMP setiap kendaraan entah dengan regresi atau cara lain. Menurut Bapak, sebaiknya apa yang harus dibuat untuk hal macam ini.
    Demikian pertanyaan saya. Besar harapan dibalas.

    • Ww.. Ini pendapat saya :
      1. Qtot
      2. Ga masuk aka
      3. Ga boleh negatif
      4. Menurut saya MKJI ga cocok u case Anda.. Pake metode lain aja misal regresi perhitungan EMP, ato metoda apa aja yg anda kuasai.
      Makasih dah mampir.. Moga sukses

  7. Assl Bapak. Mohon maaf mengganggu lagi. Masih terkait dengan TA saya, ingin saya tanyakan mengenai lebar pendekat. dalam bab 3 simpang tak bersinyal, halaman 31 ada yang kalimat yang mengatakan

    Jika A hanya untuk ke luar, maka a=0:
    WI = (b + c/2 + d/2)/3

    yang ingin saya tanyakan, jika kita balik kalimat ini jika A hanya untuk untuk masuk maka apakah a=0….apa ini bisa benar. Apa yang MKJI maksudkan adalah jika satu simpang hanya sebagai 1 arah entah masuk atau keluar, maka a=0..mohon penjelasannya.

    kasus yang saya teliti adalah simpang lengan 3. satu sisi pada jalan mayor adalah jembatan yang jaraknya 68 m dr simpang. saya ingin membuat solusi jalan minor hanya sebagai masuk saja (tidak boleh ada kendraan yang keluar dr jalan minor) (belum ada dalam MKJI 1997), mengingat ruas jalan mayor menyempit karena mendekati jembatan sehingga saya bisa dapatkan lebar efektif yang besar yang membuat kapasitas simpang (C) mendekati kapastitas C0 nya. apa boleh saya memakai rumus di atas?

    Apa bapak punya literatur pendukung tentang lebar efektif ini? saya mencari-cari di antara serpihan IHCM, TRB 2000 sampai TRB 2010 tidak menemukan materi mengenai hal ini (apa mungkin karena saya kurang ngerti bahasa inggris), tapi dari mana MKJI menyadur nya?

    saya mohon bantuan jawabannya, sebelum nya terima kasih.

    • Maaf baru bales. Saya juga bingung hehe.. Btw punya software MkJI ga? Kalo ada coba deh akal2in. Soalnya manual yg ada itu (baik MkJI ato IHCM) digunakan untuk model2 lalulintas standard Aja, kalo Ada penyesuaian kondisi lapangan ya kita yg menyesuaikannya.. Begitu sepengalaman saya hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s